K. H. Tb. A. SUCHARI CHATIB : SANG KOMANDAN REVOLUSIONER

–The Revolutionary–

“Jika umat Islam ingin lepas dan merdeka dari penjajahan Barat maka setiap Muslim harus memperkokoh keimanan dan memperkuat keyakinan pada agama. Umat Islam harus bersatu dalam menghadapi Imperialisme sehingga terwujud persahabatan untuk perdamaian serta persahabatan umat Islam sedunia”.
(Pidato “Persahabatan Dunia Islam” yang disampaikan oleh K. H. Tb. A. Suchari Chatib di Tashken, Uzbekistan, Uni Soviet, 1945).

Oleh: Ratu Nizma Oman*

PEWARIS PARA ULAMA

Kyai Haji Tubagus Achmad Suchari Chatib bin K. H. Tb. Achmad Chatib bin K. H. Tb. M. Wasi Al – Bantani adalah keturunan dari Sultan Maulana Hasanuddin Banten dari ayah. Ibunya, Ratu Hasanah (Iyot) binti K. H. Asnawi Agung Caringin al- Bantani adalah keturunan dari Sultan Mataram.

Suchari Chatib di lahirkan di kampung Caringin – Banten pada tanggal 17 Agustus 1920. Suchari lahir bertepatan dengan bulan Maulud. Anak kedua dari dua bersaudara dari istri pertama ayahnya. Anak pertama yaitu perempuan bernama Ratu Fatmah yang lahir di Mekkah. Kedua, Tb. A. Suchari. Sedangkan istri kedua ayahnya tidak memiliki anak. Kemudian istri ketiga memiliki delapan orang anak. Sehingga jumlah saudara seayah berjumlah sepuluh orang. Suchari adalah putra/ anak laki-laki pertama dari keluarga K. H. Tb. Achmad Chatib Banten.

Lingkungan keluarga sangat religius dan dididik dengan aturan Islam. Sifatnya pendiam dan gemar belajar. Beliau bukan hanya menjadi ulama/ Kyai tapi juga ahli dalam bidang politik dan militer. Beliau adalah seorang komandan revolusioner tentara pejuang Hizbullah cabang Banten dan juga seorang politisi teladan yang tidak suka hidup mewah.

Konon, beliau pernah menolak hadiah mobil Holden dari presiden Soekarno karena merasa belum saatnya. Rakyat Indonesia baru saja meraih kemerdekaan dan taraf kehidupannya masih jauh dari sejahtera. Oleh karena itu beliau ingin hidup sederhana dan merasakan penderitaan rakyat yang selama 350 tahun dijajah oleh bangsa kolonial. Dia adalah sang komandan yang jujur, pendiam namun berani dan revolusioner. Dialah Suchari Chatib, putra Residen Banten dan cucu kesayangan Syekh Asnawi Agung Caringin Banten. Pewaris para ulama.

PERISTIWA-PERISTIWA

Pada waktu lahirnya Tb. A. Suchari Chatib ditandai dengan matang kuluh ibu Ende Halimah istrinya K. H. Tb. Asnawi yang wafat pada tanggal 11 Safar. Demikian maka kelahiran Tb. A. Suchari Chatib tepat pada tanggal 21 Mulud.

Ketika berusia 6 tahun diadakanlah khitanan yang luar biasa ramainya sehingga para Bupati dan para tokoh se-Banten hadir dalam perayaan tersebut. Rupa-rupa keramaian telah memenuhi desa Caringin dan diadakan pawai sepanjang 3 kilo meter memadati jalan raya karena waktu itu ayahnya K. H. Tb. A. Chatib menjadi Presiden SI (Syarikat Islam) se-Banten dan kakeknya Syekh Asnawi adalah seorang ulama yang paling berpengaruh pada masa itu.

Berselang 6 bulan setelah itu, timbullah pemberontakan SI terhadap pemerintah Hindia-Belanda yang memang tidak pernah memihak rakyat pribumi. Dipimpin oleh ayahanda K. H. Tb. A Chatib sebagai Panglima. K. H. Tb. A. Hadi, putra Ki Caringin sebagai seksi logistik, KH Mukri Karobohong wakil panglima perang dan Ki Jafar Karobohong pemegang bendera. Namun sayangnya, Ki Chatib dan para pejuang lainnya akhirnya ditangkap karena ancaman dari pemerintah kolonial yang akan membantai rakyat dan keluarganya. Setelah perang berlangsung dua hari dua malam namun dari kedua belah pihak banyak jatuh korban.

Mertua Ki Chatib, Syekh Asnawi beserta anak dan para menantu yang laki-laki semuanya ditangkap. Ki Agung Caringin ditahan di kantor polisi Tanah Abang Jakarta sedang Ki Emed putranya dan Ki Chatib mantunya ditahan di penjara Cipinang selama satu tahun sebelum diasingkan ke tempat yang lebih jauh lagi.

Tahun 1927, keluarga yang terdiri dari anak mantu dan cucu-cucunya ikut serta ke Jakarta menyewa rumah sederhana di kampung dalam Tanah Abang termasuk Tb. A. Suchari Chatib, sang cucu yang baru berumur 6 tahun itu.

Satu tahun lamanya keluarga besar Ki Agung Caringin menderita karena ditahan oleh penjajah Belanda. Sedang keluarganya setiap hari bolak-balik untuk besuk ke Kantor Polisi. Keluarga ayahanda Ki Chatib pun ikut menjenguk setiap seminggu sekali datang ke Penjara Cipinang untuk menengok beliau dan keluarga besan.

Pada awal tahun 1928 adalah keputusan pemerintah Belanda untuk para tahanan politik. Kemudian Ki Agung Caringin diasingkan ke Cianjur Jawa Barat sedang Ki Chatib dan Ki Emed diasingkan ke Digul Irian Barat. Tb. Suchari, sang anak yang masih kecil ikut diasingkan bersama kakeknya, keluarga kakek dan ibunya menuju daerah Cianjur. Itu adalah perpisahan yang sangat panjang dengan ayahanda tercinta. Saat berpisah, mereka tidak mengetahui kapan akan bertemu kembali sampai akhirnya takdirlah yang mempertemukan mereka setelah berpisah 17 tahun lamanya.

HIDUP DALAM PENGASINGAN

Pada saat itu mulailah Tb. A. Suchari Chatib yang baru berumur 8 tahun itu bersekolah di M.I.S  (Muawanah Ikhwan Schoolmulai masuk kelas 0 kemudian loncat ke kelas 1 pada tahun itu juga. Pelajaran yang paling digemari adalah ilmu sejarah, ilmu bumi dan bahasa. Disamping bersekolah iapun mengaji pada Kiai Afifi pamannya. Selama ia di Cianjur penuh dengan suka dan duka, suka karena dapat belajar dan mengaji serta hidup sederhana sebagaimana lainnya. Duka karena ditinggal ayah dan hidup dalam pengasingan.

Tidak mudah menjalani hidup diasingkan meskipun oleh pemerintah kolonial. Apalagi bagi seorang anak kecil. Ternyata Suchari kecil pernah bergulat satu kali karena dihina oleh temannya yang mengatakan ia anak buangan. Tapi karena anak seorang ulama pejuang dan jawara, jiwa keberaniannya muncul. ketika dikeroyok oleh lima orang lawannya, Suchari berhasil memenangkan perkelahian itu. Semenjak itu lawannya tidak berani lagi untuk membuat masalah dengannya. Suchari belajar di Cianjur hanya tiga tahun sampai kelas 3 saja karena sang kakek akan dipulangkan ke kampung halamannya.

Tahun 1931, kakeknya yaitu Ki Asnawi Caringin dipulangkan ke kampung halamannya bersama seluruh keluarga termasuk Tb. A. Suhari Chatib. Kemudian ia meneruskan sekolahnya dan mengaji di Madrasah MA Masyarikul Anwar. Selain itu mengaji pula pada kakeknya Ki Caringin sampai selesai kelas VII.

Pada tahun 1935, ia mulai diberi tugas mengajar sambil terus mengaji. Sedangkan pada tahun 1937 M, wafat lah Ki Agung Caringin dan pada tahun itu pula Tb. A. Suhari Chatib meneruskan sekolahnya ke SMI Jami’at Khair Tanah Abang Jakarta Kemudian diterima kelas empat. Selama di Jakarta dua tahun selain sekolah ia pun bergabung di PSII dan aktif mengikuti kursus-kursus politik sehingga dikalangan siswa diikenal sebagai “Siyasah Kabir” atau ahli politik.

Namun penderitaan selama ia bersekolah di Jakarta cukup menyedihkan karena tidak ada yang menolong soal biaya dan segala macam yang dibutuhkan harus cari sendiri. Tetapi berkat ketekunan yang dimilikinya, akhirnya mendapat pertolongan alakadarnya dari Kak Aung saudara jauh namun beliau suka menolong. Akhirnya luluslah dari sekolah dan kembali ke Caringin pada tahun 1939.

Pada bulan Ramadan tahun itu juga menerima surat dari kepala SMI Jami’at Khair menawarkan pilihan pekerjaan sebagai guru di daerah Ciamis, Yogyakarta atau Palembang.┬áSetelah dipikirkan dalam-dalam maka dipilhlah Ciamis sebagai tempat mengajar. Secara kebetulan sekali bahwa Ciamis adalah Kota dan Kabupaten yang sedang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi. Sekolahnya baru di bangun dan gedungnya mentereng indah sekali. Di depannya jalan besar dan kereta api menghadap sawah yang luas dan kebelakang sekolahnya ada balong besar.

Disamping sekolah ada perumahan untuk ditempati para guru. Disanalah Tb. A. Suchari tinggal sebagai kepala guru. Sekolah itu dinamakan M.HS merupakan sekolah lanjutan dari Madrasah dan sekolah rakyat selama lima tahun. Disanalah mulai dirasakan hidup baru yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagian karena terjamin keperluan hidup alakadarnya selama 2 tahun. Namun hidup selalu berkah.

BERSAMBUNG

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *